Gubenur Sumut Bobby Nasution mengikuti rapat secara virtual di Medan, Rabu (26/11/2025). Sementara Bupati Taput JTP Hutabarat dan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu turun meninjau longsor. (dok/istimewa)
InfraSumut.com – Medan. Data Pusdalops-PB BPBD Sumatera Utara mengungkapkan 23 korban jiwa akibat bencana alam banjir bandang dan tanah longsor dan cuaca ekstrim di Sumut, per Rabu (26/11/2025).
Data yang beredar di kalangan awak media itu, korban meninggal dunia terjadi di Tapanuli Tengah (Tapteng) 4 orang, sementara korban luka-luka, kerusakan rumah dan kerusakan infrastruktur
masih dalam pendataan. Namun akses jalan Sipan Sihaporas menuju Sibuluan terputus total akibat longsor, Selasa (24/11/2025).
Di Kota Sibolga korban meninggal dunia 5 orang dan hilang 6 orang. Sementara kerusakan rumah dan infrastruktur, masih dlam pendataan.
Lalu di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), korban jiwa 13 orang, luka-luka 37 orang, hilang 3 orang dan mengungsi 3.000 kepala keluarga (kk). Kemudian ratusan rumah dilaporkan rusak, dan juga 1 sekolah.
Akses jalan nasional di Sipirok dilaporkan putus, begitu juga di Jalan Lintas Medan-Padang di kawasan Aek Sijorni, tergenang air. Begitu juga jalan nasional di Danau Siais penghubung Tapsel ke Singkuang Batang Natal, Mandailing Natal (Madina) putus total akibat longsor, Senin (24/11/2025).
Sementara di Pakpak Bharat korban jiwa 1 orang. Kerusakan rumah masih dalam pendataan dan 1 ruas jalan terganggu karena longsor.
Di Madina, terdapat 776 kk mengungsi. Kemudian kerusakan rumah, lahan pertanian 85 ha dan kerusakan infrastruktur 1 unit sekolah.
Sementara di Kabupaten Tapanuli Utara, tidak ada korban jiwa. Pengungsi 19 kk, puluhan rumah rusak, kerusakan infrastruktur di 4 titik ruas jalan, 1 unit jembatan terputus.
Sedangkan di Kota Padangsidimpuan, korban hilang 1 orang, pengungsi 240 kk. Kerusakan rumah dan infrastruktur dalam pendataan. Di Kabupaten Nias Selatan, tercatat satu unit rumah rusak dan satu ruas jalan terganggu.
Secara terpisah, Bupati Taput JTP Hutabarat dan Bupati Tapteng Masinton Pasaribu, terlihat turun ke lapangan. Mereka meninjau longsor di Jalan Lintas Sumatera, di Kecamatan Adiankoting, perbatasan Taput dan Tapteng.
Sementara itu Gubernur Sumut Bobby Nasution, terpantau masih belum turun ke satu titik pun yang menjadi lokasi bencana di Sumut, baik ke daerah paling terdampak, seperti Tapteng, Tapsel dan Sibolga.
Gubernur Bobby Nasution terlihat di berada di Medan mengikuti sejumlah agenda, di antaranya rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN) secara virtual dari Rumah Dinas Gubernur, Rabu (26/11/2025).
Dalam postingannya di media sosial tentang bencana alam yang melanda beberapa kabupaten/kota di Sumut, Bobby Nasution menunjukkan video berisi beberapa potongan peristiwa bencana yang terjadi. Ia juga mengingatkan kewaspadaan bencana di Sumut, sebagaimana informasi BMKG.
Tak sedikit netizen yang menanggapi postingan tersebut, baik yang meminta agar langsung turun ke titik lokasi, maupun yang memberi tahu penyebab terjadinya banjir bandang dan longsor.
“Tolong turun kelapangan pak,” tulis pemilik akun instagram @batakgrub. “Share doang bisanya ni orang, turun lu ke lapangan,” tulis @vexworldd_.
Kemudian tak sedikit juga netizen yang memberi pendapat bahwa banjir bandang dan longsor disebabkan perambahan hutan
“Riil penyebabnya kebanjiran penebangan hutan,” tulis @ahmadpaisallbs.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumut, Erwin Hotmansyah Harahap, menyampaikan bahwa Pemprov Sumut telah menyalurkan sejumlah bantuan ke daerah-daerah yang terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Sumut.
Bantuan yang dikirim meliputi 1.000 kaleng ikan kaleng, 30.000 bungkus mie instan, 500 kilogram gula, dan 1 ton minyak goreng “Selain bantuan logistik, Pemprov juga menyalurkan bantuan dana melalui Dinas Sosial Sumatera Utara sebesar Rp200 juta dan Badan BPBD Sumatera Utara sejumlah Rp60 juta,” ucap Erwin saat ditemui di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (26/11/2025).
Erwin juga menambahkan adanya bantuan bahan pangan lainnya. Namun, hingga saat ini pihaknya belum menerima rincian lebih lanjut terkait jenis makanan yang dimaksud. Hal serupa juga terjadi pada bantuan pakaian yang hingga kini belum terkonfirmasi.
Sayangnya, proses pendistribusian bantuan masih belum dapat menjangkau sejumlah wilayah terdampak, khususnya di Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal. Hal ini disebabkan oleh akses jalan yang terputus dan tidak bisa dilewati akibat ketinggian air serta longsor di beberapa titik.
“Beberapa lokasi yang masih terisolir di antaranya Aek Sijorni yang terendam banjir dengan ketinggian air hingga 2 meter, Wilayah Sipirok dan kawasan Pahae yang masih terjadi longsor, sehingga tidak bisa dilalui kendaraan,” ucapnya. (bps)





