Pengamat: ‘Tangan Dingin’ Ijeck Mampu Harmoniskan Suasana di Tengah Tingginya Dinamika Politik Golkar Sumut

Gambar Gravatar
Oplus_131072

Ketua DPD Golkar Sumut Musa Rajekshah. (istimewa)

InfraSumut.com – Medan. Semakin tinggi dinamika politik di tubuh DPD Partai Golkar Provinsi Sumatera Utara, terlebih menjelang Musyawarah Daerah (Musda) yang akan segera digelar.

Tingginya dinamika itu terlihat dari banyaknya serangan politik yang mengarah kepada Ketua DPD Golkar Sumut saat ini Musa Rajekshah.

Bacaan Lainnya

Pengamat Politik Bakhrul Khiar, Selasa (21/10/2025) menilai, ada kelompok kekuatan Golkar di Sumut, yang berupaya menonjolkan diri untuk perebutan kursi Ketua Golkar Sumut periode 2025-2030.

Namun sayangnya, itu dilakukan dengan cara-cara yang jauh dari etika politik, jauh dari teladan politik. Sebab hal-hal mendasar yang semestinya menjadi fondasi utama mengokohkan partai, terabaikan.

Semisal pada rangkaian HUT ke-61 Partai Golkar yang digelar di Pasar Kamu, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Delis Serdang, pekan lalu, di mana minim kehadiran oleh pengurus kabupaten/kota. Padahal informasi kegiatan telah disebar.

“Acara yang diselenggarakan itu harusnya dihadiri oleh seluruh pengurus kabupaten dan kota, yang merupakan wujud kecintaan dan kebanggaan kepada Partai Golkar. Kenapa begitu, karena yang menyelenggarakan itu adalah DPD Sumut, wajib dihadiri oleh seluruhnya,” kata Bakhrul Khair.

Namun realitanya terlihat ada aroma kepentingan-kepentingan yang terjadi secara realita. “Jadi bisa dikatakan yang menguji manusia hanya dua, kasih uang dan jabatan apabila ada yang berubah, jangan salahkan manusia, seharusnya manusia itu harus memanusiakan manusia di DPD Golkar Sumut ini,” terangnya.

Dari minim kehadiran itu, lanjut Bakhrul Khair, seakan menunjukan Musa Rajekshah ditinggal begitu saja dan hingga dizolimi. Padahal, Partai Golkar di Sumut telah menunjukkan kekuatannya berkat Musa Rajekshah.

Seharusnya menurut Bakhrul, semua kader dan pengurus Golkar, dengan bangga dan hadir dan bersama-sama merayakan Ultah ke-61 Partai Golkar.

Hal itu tidak berlebihan, kata Bakhrul, sebab Golkar telah meraih kejayaannya saat ini di bawah kepemimpinan Ijeck, sapaan akrab Musa Rajekshah, yakni sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024, Pilkada Sumut 2024, Pilkada di hampir semua kabupaten/kota 2024 dan juga Pilpres 2024.

Karena itu, Bakhrul mengatakan kepemimpinan Ijeck di Golkar Sumut saat ini, bahkan dengan niatnya untuk menahkodai Golkar Sumut lima tahun ke depan, sedang diuji.

“Bang Ijeck itu sedang diuji di bawah kepemimpinannya oleh orang-orang yang telah banyak dibantunya. Namun saya yakin Ijeck akan keluar sebagai pemenang dan mampu mengharmoniskan kembali tingginya dinamika yang ada berkat ‘tangan dinginnya’ yang sudah teruji,” ujar Bakhrul.

“Kita bukan bicara tentang materi, tetapi kita melihat bagaimana perjuangan dan kerja keras yang telah dilakukan Bang Ijeck untuk membesarkan Golkar di Sumut,” sambungnya.

Menurut Bakhrul, sudah sepatutnya Ijeck memainkan perannya sebagai seorang politikus, untuk menjalankan amanah demi kepentingan masyarakat.

“Sudah saatnya Bang Ijeck menunjukkan dirinya sebagai politikus. Menyambung informasi antara rakyat dan pemerintah, merumuskan dan menjalankan kebijakan publik untuk kesejahteraan rakyat. Percaya diri untuk menghadapi segala tekanan yang dilakukan oleh para kolega yang awalnya cawe-cawe kini malah menghancurkan partai,” katanya.

Bagi Bakhrul, penghianatan itu terjadi jikalau seseorang diberi kepercayaan dan jabatan, yang pada akhirnya, sambung Bakhrul berujung pada tindakan tidak etis hingga berakhir dengan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap partai.

“Kalau dilihat ini banyak hal yang menjadi sebab. Tapi kalau untuk di Sumut ini, Bang Ijeck itu memiliki seluruh kekuatan. Namun beberapa faktor terjadi karena persaingan salah mendukung lawan politik, yang pada akhirnya merugikan individu yang mendukung itu,” jelasnya.

Bakhrul berpandangan, bukan saatnya lagi membeda-bedakan kapabilitas masing-masing individu, melainkan untuk kepentingan partai bersama.

“Jangan bicara soal individu di atas kepentingan lembaga pada masing-masing yang berhasil mendongkrak suara di daerah, tapi kita melihat sosok pemimpin yang mampu melengkapi seluruh tanggung jawab yang harus dituntaskan untuk berkompetisi jangan bersaing,” ucapnya.

Bagi Bakhrul, seroang politikus harus mampu membangun autokritik yang dapat menyelesaikan masalah. Bukan malah merusak ideologis yang pada akhirnya memunculkan kemiskinan ideologi dan tidak menghargai proses seorang pemimpin.

“Kita istilahkan dengan kutu loncat, tidak menghargai proses dan kerja keras yang telah dilakukan oleh seorang pendahulu pemimpin sehingga memaksakan diri untuk merebut kekuasaan padahal dirinya sendiri itu tidak sanggup. Jadi semua ini balik kepada integritas, apabila orang yang membesarkannya saja mudah dikhianati bagaimana dengan rakyat,” ujarnya.

Untuk itu, sebagai seroang akademisi dirinya melihat Ijeck adalah sosok pemimpin masa depan yang tidak akan pernah meninggalkan keburukan di setiap sisi. “Hal ini sudah terbukti, Bang Ijeck itu adalah pemimpin masa depan, di mana dia berdiri tidak pernah meninggalkan kejelekan apalagi sampai menjelekkan,” ujarnya. (bps)

Pos terkait