Ilustrasi terapis wanita melayani tamunya. (dok/istimewa
InfraSumut.com – Medan. Oknum Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara berinisial S, yang doyan masuk masuk spa di salah satu tempat di Kota Medan, SPA, bungkam soal dugaan dirinya kerap mentransfer uang ke terapis cantik.
Wakil rakyat dari salah satu partai berwarna biru ini tak pernah bersedia menjawab setiap kali awak media berupaya mengonfirmasi, seperti yang baru saja diupayakan awak media.
Dari penelusuran awak media, diketahui anggota dewan ini kerap memanjakan dirinya dengan menikmati spa. Ia diservis habis terapis wanita cantik.
Doyan masuk spa, membuat hati wakil wakyat dari Dapil Sumut bagian Timur ini terperangkap kepada salah satu terapis cantik.
Sankin intimnya hubungan mereka, sampai-sampai si wakil rakyat diduga kerap metransfer uang ke rekening terapis. “Suka hati Abang mau kirim berapa,” kata si wanita.
Kemudian oknum anggota dewan membalas dengan ungkapan yang membuat si wanita makin penasaran. “Kirim kemana? Kantor pos?,” tulisnya.
Bukan hanya mentransfer uang, keduanya juga diduga kerap chatingan. Keduanya juga kerap bertemu diduga melakukan praktik asusila.
Saat ditelusuri wartawan, ternyata oknum wakil rakyat sudah punya istri dan anak yang usianya mulai beranjak dewasa.
Diketahui oknum anggota dewan ini juga tidak hanya dikenal sebagai politikus, namun juga dijuluki pengusaha sukses.
Tindakan oknum anggota dewan ini dianggap telah merusak citra dari DPRD Sumut maupun Pemprov Sumut.
Mahasiswa di Kota Medan mengutuk keras tindakan yang diduga telah dilakukan oleh oknum anggota DPRD Sumut tersebut. Tindakan ini dianggap sangat mencoreng nama baik dan kehormatan DPRD Sumut maupum Pemprov Sumut.
“Tindakan ini sudah sangat merusak, kader politik itu harus dipecat dan juga dicopot dari jabatannya sebagai anggota dewan, karena ini sudah jelas melanggar kode etik hingga melanggar sumpah pernikahannya kepada istri tercinta,” kata Andi, mahasiswa di Kota Medan.
Menurutnya, menjadi wakil rakyat adalah jabatan yang membuat seseorang menjadi dilema. Disamping pekerjaannya terbilang nyaman, gaya hidup juga meningkat.
“Memang jadi anggota dewan itu enak, apa aja bisa dilakukan. Rakyat yang harusnya dipikirkan malah dikesampingkan ini sudah tidak masuk akal, kenapa warganya di dapil memilih, sangat memalukan,” ungkapnya. (bps)





