Dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif melakukan pendampingan ke Kelompok Tani Dosroha, Desa Sidiangkat, Dairi, dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. (dok/istimewa)
InfraSumut.com – Sidiangkat. Jahe tidak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bumbu dapur dan bahan minuman tradisional. Di tangan Kelompok Tani Dosroha, Desa Sidiangkat, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, jahe dikembangkan menjadi produk serbuk jahe yang memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian sekaligus mendukung pengembangan usaha masyarakat.
Meski memiliki potensi ekonomi, pengembangan produk serbuk jahe yang dilakukan Kelompok Tani Dosroha masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satu persoalan utama adalah mutu produk yang belum konsisten. Proses pengolahan masih dilakukan secara sederhana dan belum sepenuhnya menerapkan standar higienitas serta standar mutu produksi yang jelas.
Proses pengeringan yang masih mengandalkan sinar matahari juga menjadi tantangan tersendiri. Kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan proses pengeringan dapat berlangsung berbeda pada setiap produksi. Akibatnya, kualitas serbuk jahe yang dihasilkan belum selalu seragam.Selain persoalan mutu, kelompok tani juga menghadapi kendala dalam pengelolaan usaha.

Pencatatan biaya produksi, hasil penjualan, dan keuntungan belum dilakukan secara rutin dan terstruktur. Produk serbuk jahe ukuran 250 gram yang dijual sekitar Rp25.000 juga masih ditentukan secara sederhana tanpa perhitungan biaya produksi dan nilai tambah yang lebih terukur. Dari sisi pemasaran, jangkauan produk juga masih terbatas.
Serbuk jahe yang dihasilkan dikemas secara sederhana tanpa label dan identitas produk yang memadai. Kondisi tersebut membuat produk lebih sulit bersaing dan memperluas pasar di luar lingkungan Desa Sidiangkat.
Untuk menjawab berbagai persoalan tersebut, dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat bersama Kelompok Tani Dosroha, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan ini melibatkan 17 peserta dan dilaksanakan oleh tim dosen yang terdiri atas Yusnia Sinambela, Juwairiah, dan Faudunasokhi Telaumbanua, bersama mahasiswa Politeknik Negeri Media Kreatif.
Kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui praktik langsung serta pendampingan. Program tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga diarahkan agar anggota kelompok tani mampu menerapkan pengetahuan dan teknologi yang diberikan secara mandiri.
Pendampingan dilakukan secara bertahap mulai dari proses produksi hingga pemasaran.Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaan teknologi tepat guna dalam pengolahan serbuk jahe. Teknologi tersebut disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan kelompok tani sehingga dapat digunakan secara praktis dalam kegiatan produksi.
Beberapa peralatan yang diperkenalkan meliputi mesin pengering jahe food grade, mesin penepung jahe stainless steel, hand sealer, serta kemasan standing pouch food grade. Penggunaan peralatan tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kebersihan, konsistensi mutu, dan efisiensi proses produksi.
Perbaikan tidak berhenti pada proses pengolahan. Aspek kemasan juga menjadi perhatian karena kemasan merupakan salah satu bagian penting dalam meningkatkan daya tarik dan daya saing produk. Penggunaan kemasan yang lebih baik dapat membantu produk serbuk jahe tampil lebih profesional sekaligus memberikan identitas yang lebih jelas kepada konsumen.
Dari sisi pemasaran, penguatan identitas produk dan pemanfaatan teknologi pemasaran sederhana menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pasar. Dengan produk yang lebih higienis, kemasan yang lebih menarik, dan pengelolaan usaha yang lebih baik, serbuk jahe Kelompok Tani Dosroha diharapkan tidak hanya dipasarkan kepada masyarakat sekitar, tetapi juga memiliki peluang menjangkau konsumen yang lebih luas.
Penerapan teknologi tepat guna dan pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha Kelompok Tani Dosroha. Peningkatan kualitas produk juga menjadi modal penting agar serbuk jahe dapat memiliki daya saing dan ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif.
Lebih dari sekadar menghasilkan serbuk jahe, kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan produk pertanian lokal membutuhkan dukungan pada seluruh tahapan usaha, mulai dari produksi, pengelolaan, pengemasan, hingga pemasaran. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, potensi jahe lokal di Desa Sidiangkat dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan membuka peluang usaha yang lebih luas bagi masyarakat.
Upaya Kelompok Tani Dosroha menjadi contoh bahwa peningkatan kualitas produk pertanian tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang rumit. Teknologi tepat guna, pengelolaan usaha yang lebih terstruktur, serta strategi pemasaran yang sesuai kebutuhan pasar dapat menjadi langkah penting untuk membawa produk lokal naik kelas. (bps)





