Indonesia Emas 2045, Akses dan Kualitas Pendidikan

Gambar Gravatar

Oleh: Ramen A Purba*

NEGARA Indonesia dianugerahi bonus demografi. Penduduk Indonesia diharapkan menjadi tenaga usia produktif yang siap mengembangkan inovasi-inovasi baru. Bonus demografi harus di respon. Salah satu kunci yakni peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Agar dapat berdaya saing dan mampu berkarya.

Presiden Prabowo Subianto sudah memulai melalui program makan bergizi gratis (MBG). Berdasarkan Perpres Nomor 83 Tahun 2024, empat kategori penerima program MBG, yaitu peserta didik atau pelajar dari PAUD hingga SMA, Balita atau anak usia di bawah lima tahun, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Bacaan Lainnya

Presiden Prabowo menyadari untuk menghasilkan SDM berkualitas dimulai dari anak masih dalam kandungan hingga masa pertumbuhan.

Selaras dengan itu, dalam 4 pilar visi Indonesia 2045, pilar ke satu berbunyi : “Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi”.

Berdasarkan bunyi pilar tersebut, untuk meningkatkan kualitas SDM haruslah pula disertai dengan pengembangan akses teknologi pendidikan yang diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan.

Berdasarkan hasil survei sistem pendidikan menengah dunia yang diterbitkan oleh PISA pada tahun 2019, Indonesia berada pada posisi yang rendah, peringkat 74.

Hasil penelitian PISA tahun 2023, di peringkat 68 dengan skor matematika (379), sains (398), dan membaca (371). Masih dibawah RPJMN 2024.

Berdasarkan data IMD tahun 2024, peringkat pendidikan Indonesia di posisi 57 secara global. Berdasarkan data Worldtop20.org, peringkat pendidikan Indonesia pada 2023 berada di urutan ke 67 dari 209 negara. Berdampingan dengan Albania di posisi ke-66 dan Serbia ke-68.

Data BPS melalui CEIC tercatat ada 60,60% ruang kelas SD dalam kondisi rusak ringan atau sedang pada tahun 2021/2022. Lebih tinggi 3,47% dari tahun sebelumnya yang sebesar 57,13%.

Di jenjang SMP 53,30% lebih tinggi 2,74% di bandingkan pada tahun sebelumnya yakni 50,56%. Di jenjang SMA ruang kelas di Papua Barat paling banyak mengalami rusak ringan atau sedang sebesar 62,84% sedangkan SMK di papua 58,4%.

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tahun 2024, dari 93.971 desa di Indonesia, ada 12.548 desa yang belum mendapat akses internet yang memadai.

Berdasarkan hasil survei APJII tahun 2024, sekitar 17,4% penduduk Indonesia belum merasakan akses internet. Kemendikbudristek (2022) melaporkan, sekitar 3,5 juta anak daerah terpencil tidak dapat bersekolah disebabkan keterbatasan infrastruktur.

Berdasarkan data PAUDNI, sekitar 800 ribu anak mengalami putus sekolah di kawasan Indonesia timur.

UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, pasal 5 menyebutkan bahwa:

  • (1) Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu
  • (2) Warga negara yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, intelektual atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus
  • (3) Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarkat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus
  • (4) Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus
  • (5) Setiap warga negara berhak mendapat kesempatan meningkatkan kesempatan pendidikan sepanjang hayatnya.

Mutu pendidikan di Indonesia dipengaruhi beberapa fakto, antara lain yaitu:

  1. Kualitas sarana
  2. Kalitas guru
  3. Kesejahteraan guru
  4. Pemerataan kesempatan pendidikan
  5. Relevansi pendidikan dengan kebutuhan
  6. Biaya pendidikan.

Pendidikan yang berkualitas memiliki standar memastikan peserta didik menerima pembelajaran yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Untuk memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata serta meningkatkan kesempatan belajar bagi semua orang harus didukung dengan pengurangan kesenjangan dan ketidakadilan dalam pendidikan, baik dalam hal akses maupun kualitas.

Kurangnya pendidikan yang memadai dapat menghasilkan tingkat pengangguran di masa depan tinggi, anak-anak terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan kurangnya peluang ekonomi yang berkelanjutan (Jatikom, 2018).

Mentransformasi Akses Teknologi Pendidikan
Akses teknologi pendidikan harus merata di seluruh daerah di Indonesia. Pembangunan jaringan internet dan penyediaan perangkat digital di daerah terpencil harus menjadi prioritas utama.

Ke depan, pemerintah bekerja sama dengan penyedia layanan. Pemerintah harus memastikan akses keterjangkauan terhadap perangkat TIK, seperti komputer dan ponsel berkemampuan internet, khususnya di daerah terpencil dan pedesaan.

Perlu memprogramkan pembangunan menara pemancar atau BTS dan juga akses internet gratis di titik layanan publik. Pemanfaatan teknologi melalui jaringan satelit dapat dipergunakan.

Kolaborasi lintas sektor untuk pemanfaatan infrastruktur digital juga dapat dilakukan. Seperti Brasil, 90% teknologi merupakan kolaborasi dengan swasta (Litto, 2018).

Di Brasil, perusahaan swasta mendukung sistem teknologi pendidikan. Penyediaan perangkat teknologi seperti komputer dan tablet di sekolah-sekolah terpencil juga penting dilakukan.

Subsidi perangkat dan internet bagi siswa kurang mampu serta kebijakan yang mendukung transformasi digital penting untuk menciptakan kesetaraan.

Seperti Korea Selatan dengan akses teknologi pendidikan tertinggi di dunia. Dengan penekanan kuat pada akses teknologi pendidikan, Korea Selatan menjadi negara maju (Jung, 2019).

Karena meratanya akses teknologi pendidikan, Korea Selatan menjadi maju di bidang sosial dan ekonomi. Rusia memiliki kekuatan akses teknologi pendidikan.

Rusia diakui dalam hal pembelajaran dan inovasi (Zawacki, 2020). Cina negara yang memiliki akses teknologi pendidikan yang sangat baik dan spesifik (Xiao, 2019). Rusia dan Cina merupakan negara yang maju dalam berbagai bidang kehidupan.

Pelatihan meningkatkan keterampilan pengajar dalam menggunakan teknologi pembelajaran harus dilakukan. Rusia melakukan pelatihan kepada guru secara berkelanjutan (Kulikov, 2019).

Platform pembelajaran digital harus dimeratakan di seluruh wilayah Indonesia. Mengurangi kesenjangan digital serta meningkatkan literasi digital.

Pengajar harus dilatih memanfaatkan teknologi secara efektif dalam proses pembelajaran. Cara menggunakan platform digital dan menciptakan pengalaman belajar yang inovatif.

Idealnya seluruh daerah dapat terpapar teknologi. Melalui transformasi akses teknologi pendidikan, akan tercipta generasi muda yang siap menghadapi tantangan global.

Teknologi bukan hanya alat, tetapi juga peluang. Membuka jalan bagi generasi mendatang. Di Korea Selatan, pemerintah memberikan layanan teknologi pendidikan yang mudah diakses dan juga memberikan akses ke publik dan swasta.

Tidak mengenakan biaya bagi guru dan pelajar untuk menggunakan teknologi pembelajaran (Yang, 2021).

Meningkatkan Kualitas Pendidikan
Kualitas pengajar salah satu permasalahan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Banyak yang belum memiliki pengalaman yang memadai.

Dibutuhkan program pengembangan yang komprehensif dan berkelanjutan. Kurikulum pengajaran penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum yang up to date serta relevan akan membantu peserta didik mampu bersaing.

Kurikulum perlu dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja. Kurikulum Singapura salah satu kurikulum pendidikan terbaik di dunia.

Berfokus pada pendidikan matematika dan sains tingkat lanjut serta pengembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas (PISA, 2023).

Program pelatihan dan pengembangan penting pula untuk meningkatkan kualifikasi para pengajar. Peningkatan pendanaan untuk infrastruktur pendidikan demi terciptanya lingkungan pendidikan yang kondusif dan berkualitas tinggi juga sangat penting.

Sistem pendidikan di negara maju menonjolkan pendekatan kurikulum yang lebih holistik, yang tidak hanya menekankan pada penguasaan materi pelajaran, tetapi juga pada pengembangan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (Luwuk & Banggai, 2022).

Peserta didik menjadi unsur penting pula dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Harus memiliki semangat dan motivasi belajar yang tinggi, serta kemauan untuk terus belajar meskipun menghadapi berbagai rintangan.

Harus pula memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, seperti kemampuan berbahasa asing, penguasaan teknologi, dan kompetensi sosial.

Pemerintah harus menyediakan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan pendidikan yang berkualitas dengan menerapkan kebijakan yang tepat.

Seperti di Korea Selatan, di mana pemerintah memberikan subsidi dan dukungan kepada masyarakat untuk mengakses perangkat teknologi dan internet, terutama di daerah-daerah terpencil (Fatimatuzzuhroh, 2022).

Hal ini dapat dicapai dengan menerapkan model pendidikan yang inovatif, memperkuat jaringan kerja sama antar institusi pendidikan, dan meningkatkan kualitas pengajar.

Juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat. Masyarakat dapat memberikan dukungan dengan menjadi donasi untuk pembangunan gedung sekolah, bantuan untuk pengembangan program pendidikan, dan bantuan tenaga pengajar sukarela.

Dengan komitmen dari seluruh pihak kualitas sumber daya manusia akan mumpuni. Visi Indonesia Emas 2045 pasti akan terwujud.

(sumber: medanbisnisdaily.com)

*Penulis Direktur Politeknik Unggul LP3M Medan.

Pos terkait