Manager Environmental PTAR, Mahmud Subagya, menjelaskan komitmen lingkungan Tambang Emas Martabe pada Buka Puasa Bersama di Medan, Kamis (6/3/2025). (infrasumut/bps)
InfraSumut com – Medan. PT Agincourt Resources menegaskan air limbah atau air sisa proses pengolahan Tambang Emas Martabe yang dibuang ke Sungai Batangtoru, Tapanuli Selatan, konsisten berada di bawah ambang baku mutu yang ditetapkan pemerintah.
Bahkan sejak tahun 2013 atau sejak dimulainya pemantauan kualitas air limbah oleh tim terpadu, air limbah yang dibuang ke Sungai Batangtoru tersebut, selalu dalam ambang baku mutu.
“Jadi air limbah atau air sisa proses pengolahan tambang kami, aman untuk ekosistem Sungai Batangtoru,” jelas Manager Environmental PTAR, Mahmud Subagya, pada acara Buka Puasa Bersama Tambang Emas Martabe, di Hotel Adimulia, Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Medan, Kamis (6/3/2025).
Dikatakan Mafmud Subagya, kualitas air konstan di bawah ambang baku mutu yang dibuang ke Sungai Batangtoru tersebut, adalah dari pengujian sampel air limbah di laboratorium terakreditasi, yakni PT Intertek Utama Services, yang diuji setiap bulan.
Ia menjelaskan singkat pengolahan air limbah tambang dilakukan lewat sistem pengolahan terpadu di TSF. Kemudian setelah dipastikan air limbah yang diolah memenuhi baku mutu, lalu akhirnya dibuang ke Sungai Batangtoru.
Pemantauan air limbah tambang tersebut, lanjut Mafmud, dilakukan PTAR bersama Tim Terpadu yang terdiri dari pemerintah kabupaten, provinsi, akademisi dan perwakilan masyarakat dari 14 desa lingkar tambang.
“Jadi tidak ada dampak negatif penting karena sudah memenuhi baku mutu, sehingga secara lingkungan aman. Ikan planton, bentos (serangga air yang hidupnya di batuan), ikan-ikan, dagingnya masih di bawah baku mutu,” jelasnya.
Kepastian air limbah dalam batas baku mutu, terang Mafmud, adalah bagian dari komitmen besar Tambang Emas Martabe dalam melaksanakan usaha pertambangan yang memenuhi prinsip dan kaidah kelestarian lingkungan.
Ia mengatakan perusahaan tambang terus berkomitmen dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati. “Perusahaan menyadari adanya dampak negatif terhadap aspek keanekaragaman hayati dari kegiatan operasional yang dijalankan,” kata Mafmud.
“Namun demikian, perusahaan secara berkala melakukan pengelolaan dampak terhadap keanekaragaman hayati yang terkait dengan pengoperasian Tambang Emas Martabe didasarkan pada hierarki mitigasi dan diselaraskan dengan praktik unggulan industri,” sambungnya.
Salah satu pengakuan terhadap PTAR yang mengelola lingkungan dengan baik dalam usaha pertambangannya adalah diterimanya penghargaan PROPER 2024 Peringkat Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Peringkat PROPER Hijau itu diberikan ke perusahaan yang telah melampaui kepatuhan dalam pengelolaan lingkungan dengan menerapkan sistem manajemen lingkungan, efisiensi energi, penurunan emisi, serta pengembangan program pemberdayaan masyarakat yang inovatif dan berkelanjutan.
Sebelumnya Direktur PT Agincourt Resources, Noviandri, yang membuka acara itu didampingi Senior Manager Komunikasi Katarina Siburian Hardono, mengatakan PTAR berkomitmen tidak hanya pada keunggulan operasional, tetapi juga pada prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.
Dengan menerapkan teknologi modern dan praktik terbaik di industri, kata Noviandri, PTAR berupaya memaksimalkan manfaat bagi pemangku kepentingan, termasuk masyarakat sekitar dan lingkungan.
Komitmen terhadap lingkungan, jelas Noviandri, juga terus diperkuat. Salah satu target utama PTAR adalah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30% dari tahun 2019 hingga 2030. Untuk mencapainya, PTAR telah memasang solar PV berkapasitas 2,1 MWp, menggunakan biofuel B35, memanfaatkan energi terbarukan dari PLN, serta mengoperasikan alat-alat hybrid.
Dalam aspek reklamasi dan konservasi, sepanjang 2024 PTAR telah menebar 21.095 seed ball dan menanam 29.183 benih pohon di berbagai area konservasi dan reklamasi.
Luas reklamasi yang telah tercapai adalah 11,96 hektar sesuai dengan rencana yang diajukan ke Kementerian ESDM. Selain itu, PTAR menetapkan 100 ha bekas TMF East sebagai kawasan konservasi. (bps)





