Oleh: Anggreini Dewi*
DINAMIKA kehidupan manusia tidak terlepas dari suka maupun duka. Adakalanya kita merasakan kebahagiaan, sukacita dan ada kalanya juga kita merasakan kesedihan maupun penderitaan.
Kalau bisa memilih, tentu saja semua manusia lebih memilih hidup penuh kebahagiaan dan sukacita. Itu kalau kita bisa memilih, namun kenyataan dalam hidup ini semua silih berganti pasti kita rasakan.
Baik penderitaan maupun kebahagiaan bisa terjadi pada semua manusia tanpa pandang usia, gender, status sosial dan lain sebagainya. Setiap manusia baik secara pribadi maupun satu keluarga pasti pernah mengalami tragedi hidup masing-masing misalnya peristiwa kematian, sakit, krisis keuangan, penyakit, dan sebagainya.
Orang sering khawatir dan takut menghadapi ujian dari Tuhan, tetapi mereka senantiasa hidup dalam jerat iblis, dan hidup dalam wilayah berbahaya tempat mereka diserang dan disiksa oleh iblis.
Namun mengapa mereka tidak mengenal rasa takut, serta tidak terganggu? Apa yang sedang terjadi? Keyakinan manusia kepada Tuhan hanya terbatas pada hal-hal yang dapat dilihatnya. Dia sama sekali tidak menghargai kasih dan kepedulian Tuhan bagi manusia, atau kelembutan dan perhatian-Nya terhadap manusia.
Namun untuk sedikit gentar dan takut akan ujian, penghakiman dan hajaran, serta kemegahan dan murka Tuhan, manusia tidak memiliki pemahaman sedikit pun tentang maksud baik Tuhan.
Hati manusia itu jahat, menyimpan pengkhianatan dan kecurangan, tidak mencintai keadilan dan kebenaran, dan hal yang positif, dan hati manusia hina dan serakah. Hati manusia benar-benar tertutup bagi Tuhan. Manusia sama sekali tidak memberikan hatinya kepada Tuhan.
Tuhan tidak pernah melihat hati manusia yang sejati dan Dia juga tidak pernah disembah oleh manusia. Seberapa pun besarnya harga yang Tuhan bayar, atau seberapa pun banyaknya pekerjaan yang Dia lakukan, atau seberapa pun banyaknya Dia membekali manusia, manusia tetap buta dan sama sekali tidak peduli terhadap semua itu.
Manusia tidak pernah memberikan hatinya kepada Tuhan, dia hanya ingin memikirkan hatinya sendiri, membuat keputusannya sendiri. Intinya adalah manusia tidak mau mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, ataupun taat pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dia juga tidak mau menyembah Tuhan.
Seperti itulah keadaan manusia. Hanya mementingkan dirinya sendiri dan merasa bahwa apa yang diperolehnya adalah karena kekuatan dan kemampuannya sendiri bukan berasal dari anugerah dan belas kasih Tuhan.
Hal yang berbeda dengan yang dialami oleh Ayub. Ayub adalah seorang laki-laki dari tanah Us yang saleh dan jujur. Ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
Ayub dikatakan sebagai orang yang terkaya dari semua orang di sebelah timur dan mempunyai 7 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan.
Dalam Alkitab, Ayub adalah tokoh yang taat dan setia kepada Allah. Ayub mengalami berbagai macam musibah dan penderitaan, namun imannya kepada Allah semakin kuat. Ayub dikenal sebagai orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah.
Anak-anak Ayub sering sekali mengadakan pesta dan setelah selesai pesta, Ayub memanggil anak-anaknya dan menguduskan mereka. Keesokan harinya, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.”
Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. Tuhan menyukai Ayub sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. TUHAN menanyai kesalehan Ayub kepada iblis (bahasa Ibrani: הַשָּׂטָן, translit. has-satan), tetapi iblis menuduh bahwa Ayub hanya setia karena ia telah diberkati oleh harta, dan akan berbalik mengutuki-Nya jika Allah mengambil semua itu darinya.
Lalu iblis diberi kuasa oleh Tuhan untuk memberikan malapetaka kepada Ayub tetapi iblis tidak boleh mengambil nyawa Ayub. Malapetaka yang diberikan iblis yaitu berupa kehilangan semua anaknya dan segala harta bendanya, lalu menderita penyakit kulit yang menjijikkan dan ditinggalkan oleh istrinya.
Namun setelah semua itu, Ayub tetap saleh dan tidak mengutuki Allah. Melalui musibah dan bencana yang dialaminya justru malah menguatkan iman dan kepercayaan Ayub terhadap Allah.
Kitab ini diawali dengan prolog berbentuk prosa. Bagian prolog menceritakan tokoh Ayub yang adalah orang yang berbudi baik dan mempunyai harta kekayaan yang luar biasa.
Setelah itu, masuk bagian utama, yang berisi monolog dan dialog berbentuk puisi. Pada bagian utama, Ayub yang telah terkena malapetaka mulai berkeluh kesah akan kematiannya yang tidak kunjung datang.
Teman-teman Ayub yang mengunjunginya (Elifas, orang Téman; Bildad, orang Suah; dan Zofar, orang Naama) menegur Ayub dan menjelaskan bahwa penderitaannya itu merupakan ganjaran dari dosa yang diperbuatnya.
Tetapi tidak jarang juga ia mengeluh dan menantang Allah karena ia merasa bahwa tidak sepantasnya ia mendapat hukuman yang sekejam itu dan tidak dapat mengerti mengapa Allah membiarkan orang seperti dirinya mengalami begitu banyak bencana, sebab ia seorang yang sangat baik dan jujur.
Ayub tetap tidak kehilangan kepercayaannya kepada Allah, tetapi ia juga sungguh-sungguh ingin supaya dibenarkan oleh Allah dan supaya mendapat kembali kehormatannya sebagai orang yang baik.
Hubungan Ayub dengan Tuhan Allah sangat berbeda. Pandangan yang jauh dan impersonal tentang Tuhan Allah ini tidak cukup baginya. Mungkin di masa lalu hal itu pernah terjadi. Pada awalnya, ia dengan tabah menerima penderitaannya dan tidak terpikir bahwa ia mungkin akan menantang Tuhan Allah.
Namun seiring berjalannya waktu, teologi Ayub yang dua dimensi, rapi, dan teratur itu runtuh. Dan kemudian ia berbicara kepada Tuhan Allah. Ia mengeluh kepada Tuhan Allah. Ia berteriak dan mengomel kepada Tuhan. Ia memohon kepada Tuhan untuk mendengar keluh kesahnya dan menjawabnya.
Ia membutuhkan Tuhan untuk menjadi Tuhan yang akan menanggapi. Inilah yang dianggap mengancam oleh teman-temannya. Karena teman-temannya mengatakan bahwa Ayub tidak seharusnya mengeluh dan meragukan keadilan Allah.
Teman-temannya berpendapat bahwa jika Ayub bertobat dan mencari Allah, Dia akan memulihkan kehidupan Ayub dan memberikan keberkahan yang besar. Teman-temannya juga mengingatkan Ayub untuk belajar dari generasi sebelumnya dan mengamati kebijaksanaan mereka.
Teman-temannya beranggapan bahwa orang yang setia kepada Allah akan diberkati dan orang yang jahat akan mengalami kehancuran. Dan bahwa orang yang benar tidak akan mengalami penderitaan, karena penderitaan adalah hukuman atas suatu dosa tertentu yang pernah dilakukan. Sebagai jawabannya, Ayub menegaskan bahwa dirinya adalah orang yang benar, dan bahwa karena itu kemalangannya bukanlah hukuman atas apapun juga.
Bila membandingkan antara pandangan iblis dengan pandangan sahabat-sahabat Ayub, maka terlihat bahwa iblis menganggap iman manusia ada karena berkat Allah, sebaliknya sahabat-sahabat Ayub melihat berkat Allah ada karena iman manusia.
Menurut pandangan iblis, jika Ayub diberkati Allah maka ia akan takut akan Allah, dan juga sebaliknya. Iblis menuduh Allah menyogok pengikut-Nya untuk setia kepada-Nya dengan berkat dan rahmat. Iblis berpendapat bahwa Allah memberi anugerah kepada manusia agar manusia mau menyembah Allah.
Bertolak belakang dengan iblis, sahabat-sahabat Ayub berpandangan bahwa jika Ayub tidak setia kepada Allah maka ia akan dihukum, dan juga sebaliknya. Sahabat-sahabat Ayub hanya melihat bahwa kesetiaan merupakan sumber dari berkat, atau ketidaksetiaan merupakan sumber dari hukuman.
Tetap dengan format puisi, Tuhan Allah tidak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Ayub, tetapi Allah menanggapi kepercayaan Ayub dengan memberinya banyak contoh mengenai kuasa dan hikmat-Nya. Kemudian dengan penuh rendah hati, Ayub mengakui kebijaksanaan dan keagungan Allah, lalu menyesali kata-katanya yang keras dan penuh kemarahan itu.
Bagian epilog dari kisah ini, Allah memarahi teman-teman Ayub karena mereka tidak dapat memahami arti kesengsaraan Ayub. Hanya Ayublah yang sungguh-sungguh menyadari bahwa Allah lebih besar daripada yang telah diajarkan oleh teman-temannya.
Tuhan Allah bisa saja mengutuk Ayub. Namun, sebaliknya, Ia memuji Ayub atas satu hal yang benar-benar penting. Ayub tidak menyerah. Ia mengatakan kepada Tuhan apa yang ia rasakan dan berharap Tuhan peduli. Bapa kita bukanlah Tuhan yang jauh dan berdimensi ganda seperti yang dimiliki teman-teman Ayub. Ia adalah Tuhan Ayub yang pribadi, dekat, dan tanggap.
Hubungan Ayub dengan Tuhan mengajarkan kita bahwa kejujuran yang radikal dengan pencipta kita dapat menuntun pada hubungan yang lebih dalam, pemahaman yang lebih besar, dan iman yang lebih kuat. Dan pada akhirnya Ayub kemudian dikembalikan kepada keadaannya semula, dengan kekayaan yang jauh melebihi kekayaannya sebelum itu.
Karya Perbuatan Tuhan Ajaib dan Nyata
Ayub belum pernah melihat wajah Tuhan, atau mendengar firman yang diucapkan oleh Tuhan, apalagi secara langsung mengalami pekerjaan Tuhan, tetapi sikapnya yang takut akan Tuhan dan kesaksiannya selama ujiannya disaksikan oleh semua orang, dan dicintai, disukai, dan dipuji oleh Tuhan, dan mengaguminya, dan bahkan lebih dari itu, menaikkan pujian mereka. Tidak ada hal yang hebat atau luar biasa tentang kehidupannya, sama seperti orang biasa, Ayub menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.
Perbedaannya adalah bahwa selama beberapa dekade hidupnya yang biasa-biasa saja, dia mendapatkan wawasan mengenai jalan Tuhan, dan menyadari serta memahami kuasa dan kedaulatan Tuhan yang besar, seperti yang belum pernah dimiliki oleh siapa pun.
Dia tidak lebih cerdas daripada orang biasa lainnya, hidupnya tidak terlalu ulet, dan dia juga tidak memiliki keterampilan khusus yang tak terlihat. Namun, apa yang dia miliki adalah kepribadian yang tulus, baik hati, dan jujur, kepribadian yang menyukai keadilan, kebenaran, dan hal-hal positif dan tak satu pun dari hal-hal ini dimiliki oleh kebanyakan orang biasa.
Dia tahu membedakan antara kasih dan kebencian, memiliki rasa keadilan, pantang menyerah dan gigih, serta memberi perhatian yang cermat dalam pemikirannya.
Ayub melihat semua hal luar biasa yang telah dilakukan Tuhan, dan dia melihat kebesaran, kekudusan, dan keadilan Tuhan, dia melihat perhatian, kemurahan, dan perlindungan Tuhan bagi manusia, dan dia melihat kehormatan dan otoritas Tuhan yang Maha Tinggi.
Alasan pertama mengapa Ayub dapat memperoleh hal-hal yang melampaui orang normal adalah karena dia memiliki hati yang murni, dan hatinya adalah milik Tuhan, dan dipimpin oleh Sang Pencipta.
Alasan kedua adalah Ayub ingin menjadi sempurna dan tak bercela, dan menjadi orang yang menuruti kehendak Surga, yang dikasihi oleh Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Walaupun dia tidak dapat melihat Tuhan atau mendengar Firman Tuhan, dia mulai mengetahui cara Tuhan mengatur segala sesuatu, dan dia memahami hikmat yang berasal dari Tuhan yang mampu melakukan semua itu.
Ayub tidak membiarkan hidupnya yang biasa-biasa itu mempengaruhi pengetahuannya akan kedaulatan Tuhan atas segala sesuatu, atau mempengaruhi cara dia mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan.
Dari kisah Ayub, kita belajar bahwa dia adalah pribadi yang saleh dan mengasihi Tuhan. Dan bahkan ketika dia menerima keadaan yang buruk sekalipun, dia memilih untuk tetap teguh dalam iman. Dia tak sekalipun mau meninggalkan Tuhan.
Lalu apa yang membuat iman Ayub begitu kuat?. Salah satunya adalah dia mengerti dan memahami kebenaran Firman Tuhan. Kita perlu membaca Alkitab untuk memiliki iman yang sama seperti dia. Tetap teguh dan taat pada Firman Tuhan dan yakin akan kuasa penyertaan Tuhan, maka hanya Tuhan yang sanggup membantu dan memulihkan keadaan kita.
Apalagi di zaman sekarang ini, zaman yang digitalisasi. Tidak ada lagi waktu dan komunikasi diantara keluarga. Semua sibuk dengan gadget, baik selaku orangtua maupun anak.
Tidak pernah lagi ada waktu untuk berkumpul bersama saling bertukar cerita, tidak ada lagi waktu sang anak untuk menceritakan kejadian dan hal-hal yang dilakukannya selama di sekolah apakah dia dibully atau tidak, apakah dihukum guru karena kesalahan yang dilakukannya.
Tidak ada yang tau, dan tidak ada kesempatan untuk anak bercerita kepada orangtuanya. Akhirnya anak mencari perhatian dari luar, dari orang-orang yang bisa mendengarkan kisahnya dan membuat kenyamanan buatnya. Yang ditakutkan anak bertemu dengan orang yang tidak tepat, bertemu dengan orang yang tidak mengenal Tuhan.
Akhirnya permasalahan baru pun muncul. Karena semua anggota keluarga disibukkan dengan aktifitas masing-masing. Orang tua dan anak-anak pergi pagi pulang malam.
Orang tua sibuk di kantor baik ayah maupun ibu, anak-anak pulang sekolah langsung lanjut pergi les. Rumah hanya dibuat sebagai tempat istirahat malam saja. Dan kalaupun makan di restoran, begitu pesan makanan langsung buka gadget masing-masing dengan segala macam aplikasi maupun fitur-fitur yang tersedia di dunia internet.
Bahkan selesai makan juga demikian, sibuk dengan dunia internet yang ada di gadget masing-masing. Tanpa disadari bahwa iblis juga telah berevolusi ke sosial media yang menarik kita manusia untuk mengikuti apa yang ada di sosial media tersebut.
Tawaran-tawaran yang menggoda hati bermunculan, ada judi online, pornografi, game online bahkan pinjaman online. Semua akses bebas dibuka tanpa pandang usia maupun gender.
Hal yang menyedihkan lagi bahwa anak balita pun dinyamankan dengan gadget supaya aktifitas orangtua tidak terganggu. Kemajuan teknologi yang merusak manusia. Hal ini jika dibiarkan maka akan semakin jauh dari kebenaran Firman Tuhan.
Selaku orang tua, kita harus mampu memberi perhatian khusus kepada anak-anak untuk mengenal Tuhan melalui pembacaan Firman Tuhan, melakukan renungan harian setiap hari dan menanamkan nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan melalui sikap dan perilaku kita sehari-hari bagaimana caranya supaya kita tidak tergerus oleh kemajuan teknologi saat ini. Supaya anak-anak tidak mudah tergoda oleh tawaran-tawaran yang menggiurkan mata dan menyenangkan hati mereka.
Tidak mudah tapi harus sejak dini diajarkan dalam lingkup keluarga masing-masing. Setiap harinya harus rajin berdoa, bermain bersama anggota keluarga, dan bertukar cerita dengan sesama anggota keluarga. Menyempatkan waktu sedikitnya beberapa jam setiap hari untuk mendapatkan kualitas keluarga yang takut akan Tuhan dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita.
Hikmat dan Teladan dari Ayub
- Keadilan Allah
Disini ditegaskan bahwa Allah tidak membengkokkan keadilan-Nya. Hal ini mengajarkan kita untuk percaya bahwa Allah adalah Allah yang adil dan tidak akan melakukan ketidakadilan kepada umat-Nya. Kita dapat mempercayai bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan baik dan jahat yang kita lakukan. Namun Allah akan menerima pertobatan dari orang yang melakukan perbuatan jahat. - Pencarian Allah
Mengajak Ayub untuk tekun mencari Allah dan memohon belas kasihan dari-Nya. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mencari Allah dalam hidup kita, mempersembahkan doa-doa kita kepada-Nya, dan memohon belas kasihan-Nya dalam setiap situasi baik saat kita mengalami masa-masa yang menyenangkan maupun saat mengalami kesulitan dan penderitaan - Kebijaksanaan dari Generasi Sebelumnya
Mengajak Ayub untuk belajar dari generasi-generasi sebelumnya dan mengamati penemuan para bapa leluhur mereka. Hal ini mengajarkan kita untuk menghargai dan belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan orang-orang yang lebih tua dari kita. Kita dapat belajar dari kesalahan dan keberhasilan mereka dalam hidup kita. Mengambil nilai-nilai positif yang sesuai dengan ajaran Firman Tuhan dan menjauhi hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Firman Tuhan - Harapan orang yang tidak ber-Tuhan
Jika orang yang tidak berTuhan nasibnya akan seperti orang yang kehilangan harapan dan keyakinan. Hal ini mengingatkan kita untuk selalu mempercayai Allah dan memiliki harapan yang teguh dalam hidup kita. Kita tidak boleh bergantung pada hal-hal duniawi semata, tetapi harus bergantung pada Allah yang setia.
Doa Permohonan dalam Ayub :
- Memohon kepada Allah agar kita selalu percaya pada keadilan-Nya dan mempercayai bahwa Dia akan membalas setiap perbuatan baik dan jahat yang kita lakukan. Namun Allah akan menerima pertobatan dari orang yang melakukan perbuatan jahat.
- Memohon kepada Allah agar kita selalu mencari-Nya dengan tekun dan sabar serta memohon belas kasihan-Nya dalam setiap situasi hidup kita baik suka maupun duka.
- Memohon kepada Allah agar kita dapat belajar dari pengalaman dan kebijaksanaan orang-orang yang lebih tua dari kita, dan mengambil hikmah dari kesalahan dan keberhasilan mereka seturut dengan ajaran Firman Tuhan.
- Memohon kepada Allah agar kita selalu memiliki harapan yang teguh dalam hidup kita, dan tidak bergantung pada hal-hal duniawi semata, tetapi bergantung pada-Nya yang setia.
Semoga doa-doa ini dapat membantu kita untuk hidup dengan bijaksana dan percaya pada Allah yang adil dan setia. Immanuel, Amin!
*Mahasiswa Program Magister di STT Baptis Medan





