Kontraktor Sumut Rikson Sibuea berdialog langsung dengan Menteri Perumahan Maruarar Sirait pada sosialisasi Kredit Program Perumahan di Kampus UHN Medan, Jumat (10/10/2025) malam.
(dok/infrasumut)
InfraSumut.com – Medan. Sejumlah kontraktor di Sumatera Utara, turut hadir pada sosialisasi Kredit Program Perumahan oleh Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Maruarar Sirait, di Aula Fakultas Kedokteran, Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan, Jumat (10/10/2025) malam.
Pada sosialisasi yang juga dihadiri Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian itu, Menteri Maruarar Sirait, berdialog langsung dengan perwakilan kontraktor, developer, pengusaha toko bangunan dan pelaku UKM serta perbankan.
Mewakili kontraktor Sumut, Rikson Sibuea, yang juga alumni Teknik Sipil UHN, menjawab beberapa pertanyaan menteri. Rikson mengaku tidak membukukan omset selama ini. Hal ini karena tidak pernah terlibat dalam pekerjaan program 3 Juta Rumah di Sumut.
“Tidak ada pak,” ujar Rikson menjawab pertanyaan Maruarar soal berapa omsetnya saat ini. Kemudian ditanyakan menteri soal apa kendala yang dihadapi selama ini.
Rikson mengatakan selain karena tidak pernah dilibatkan dalam program 3 juta rumah, juga karena sulitnya mengakses pembiayaan dari perbankan. “Soal agunan misalnya, nggak jelas juga seperti apa progresnya, padahal kita punya agunan,” kata Rikson.
Sejumlah kontraktor yang hadir, seperti Pentus Nainggolan, Krisman Tahunan dan Hendri Situmorang, Mannix Simangunsong, dan Richard Eddy M Lingga, Edwan Ningrat Silitonga, juga mengamini pernyataan Rikson.
Dikatakan Rikson, Provinsi Sumut mendapat jatah 15.000 unit program 3 juta rumah tahun 2025. Dari jumlah itu, sekitar 8.000 unit telah terealisasi. Kemudian Sumut mendapat tambahan 5.000 unit, sehingga totalnya 20.000 unit.
Karena itulah, lanjut Rikson, diharapkan Menteri Maruarar agar menggandeng para kontraktor Sumut menjadi bagian dari sukses program 3 juta di rumah, khususnya dalam merealisasikan target 20.000 unit rumah tahun ini di Sumut.
“Karena memang ini yang menjadi persoalan. Developer yang memang selama ini bermain di sektor properti, khususnya perumahan, tetapi dalam membangun perumahan kan kontraktor. Sementara kami tak pernah terlibat dalam pembangunannya,” jelas Rikson.
Sehingga para kontraktor pun bertanya, kontraktor mana yang dipakai developer. “Artinya para kontraktor sudah susah payah membangun kompetensinya, mengikuti ketentuan disana-sini, tapi tak terlihat dalam program pembangunan 3 juta perumahan ini, kan menjadi aneh. Dimana kolaborasi yang selalu didengung-dengungkan Bapak Presiden Prabowo?,” sambung Rikson lagi.
Terlebih karena program 3 juta rumah ini, tambah Rikson, adalah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dari sisi pemenuhan rumah. Sehingga kolaborasi antara developer, kontraktor, pengusaha toko bangunan, dan pelaku UKM serta perbankan, harus diwujudnyatakan, bukan sekedar omon-omon.
Dengan begitu, tambah Rikson lagi, selain memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum memiliki rumah, program 3 juta rumah ini akan berdampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi Sumut. “Karenanya sekali lagi, kami mendukung penuh program 3 juta rumah di Sumut, namun libatkan pada kontraktor Sumut,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri Maruarar mengatakan pemerintah berkomitmen untuk membangun ekosistem yang saling terhubung antara sektor perumahan dan UMKM.
Melalui Kredit Program Perumahan, kata Maruarar, para pelaku usaha kecil tidak hanya mendapatkan akses pembiayaan rumah, tetapi juga peluang memperkuat usaha mereka.
“Kredit perumahan ini tidak berdiri sendiri, tapi menjadi bagian dari gerakan ekonomi rakyat agar UMKM bisa tumbuh dalam ekosistem perumahan yang produktif,” tambahnya. (bps)





