Tambang Emas Martabe menggelar operasi katarak beberapa waktu lalu. (dok/ptar)
InfraSumut.com – Pernahkah kalian membayangkan hidup dalam kegelapan, tidak bisa melihat betapa dunia penuh warna-warni?. Umar Siregar, warga Kelurahan Silandit, Kota Padangsidimpuan salah satunya. Selama 15 tahun menderita katarak, sehingga membuat aktivitasnya sangat terbatas,harus membutuhkan bantuan orang lain.
Namun kegelapan itu akhirnya sirna saat Umar mendapat kesempatan operasi katarak pada tahun lalu yang diselenggarakan oleh Tambang Emas Martabe.
“Rasanya luar biasa sekali. Selama 15 tahun saya kehilangan banyak hal, tetapi berkat program ini saya merasa mendapatkan kehidupan baru”, ujar Umar.
Setelah matanya normal kembali, Umar dapat berkegiatan secara mandiri, bahkan mampu mengendarai sepeda motor.
Tidak hanya Umar, ada Endang Siregar, 49 tahun, warga Kelurahan Perkebunan Batang Toru sudah 10 bulan terakhir mengalami gangguan penglihatan akibat katarak.
Melakukan pekerjaan rumah pun baginya sangat melelahkan karena penglihatan yang terganggu itu,termasuk menjalankan usaha kecilnya berjualan dari rumah menjadi terhambat.
Begitu mendengar informasi bahwa ada operasi katarak yang diselenggarakan oleh Tambang Emas Martabe, perempuan beranak tiga dan satu cucu itu segera mendaftarkan diri.
“Memilih menjalani operasi karena ingin kembali melihat dengan jelas serta bisa berjualan dan beraktivitas normal lagi, terutama menghabiskan waktu bersama keluarga dan cucu saya,” ujar Endang
Berdasarkan data yang diperoleh, sejak diselenggarakan tahun 2011, Operasi Katarak Gratis Tambang Emas Martabe sudah berhasil mengoperasi 12.173 mata katarak pada 10.684 orang.
Tetap dengan tajuk” Buka Mata Lihat Indahnya Dunia” pada tahun ini operasi yang sama kembali digelar, menargetkan 1.400 mata untuk dioperasi di lima lokasi, dimulai dari Rumah Sakit Bhayangkara Batang Toru, Tapanuli Selatan.
General Manager Operations & Deputy Director Operations PTAR, Rahmat Lubis, mengatakan bahwa katarak sering kali membuat penderita kehilangan produktivitas dan kemandirian.
Melalui program ini, mereka ingin menghadirkan kembali harapan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi masyarakat, khususnya di lingkar Tambang Emas Martabe.
Perusahaan Tambang Emas Martabe yang berlokasi di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara, merupakan salah satu operasi pertambangan emas dan perak yang cukup signifikan di Indonesia.
Mengingat dampak lingkungan dan sosial yang melekat dalam aktivitas pertambangan, perusahaan pengelola yaitu PT Agincourt Resources mengadopsi kerangka tanggung jawab sosial yang tertuang dalam “Living in Harmony”, yaitu upaya untuk menciptakan keseimbangan antara operasional bisnis, masyarakat sekitar, dan lingkungan.
Presiden Direktur PT Agincourt Resources, Muliady Sutio, mengatakan “Living in Harmony” menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan aktivitas bisnis.
“Living in Harmony” atau hidup dalam harmonisasi bukan hanya slogan semata, tetapi diwujudkan dalam berbagai bentuk program kerja nyata yang bernama Program Pengembangan Masyarakat (PPM).
Berdasarkan catatan saya sebagai jurnalis, program kerja itu diantaranya program kesehatan masyarakat seperti gelar operasi katarak gratis, revitalisasi dan konservasi lingkungan seperti menetapkan sekitar 2.000 hektar wilayah dalam Kontrak Karya sebagai kawasan biodiversity refugia yang dikelola secara aktif dan jangka panjang termasuk, program edukasi dan literasi dalam berbagai aspek kehidupan dengan nilai yang sangat fantastis,mencapai puluhan miliaran rupiah.
Alhasil”Living ini Harmony” yang diwujudkan dalam berbagai Program Pengembangan Masyarakat dan secara konsisten dilaksanakan oleh Tambang Emas Martabe mengantarkan perusahaan tambang tersebut memperoleh berbagai penghargaan prestisius.
Terbaru meraih dua Penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meliputi kategori Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Mineral Terinovatif melalui program unggulan Pilar Kemandirian Ekonomi serta penghargaan di bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Mineral pada bulan Oktober lalu.
Penghargaan Gold Award kategori Eco-Hazard Innovation pada ajang Eco-Tech Pioneer and Sustainability Award (EPSA) 2025,dan meraih penghargaan PROPER 2024 Peringkat Hijau dari Kementrian Lingkungan Hidup.
Berbagai penghargaan tentunya merupakan pengakuan atas komitmen perusahaan dalam menciptakan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat di lingkar maupun luar tambang.
Penghargaan tersebut sekaligus merepresentasikan kontribusi perusahaan terhadap tata kelola pertambangan yang baik dan kepatuhan terhadap berbagai regulasi.
Umar dan Endang hanyalah bagian kecil dari masyarakat yang merasakan manfaat dari program pengembangan masyarakat berkelanjutan “Living in Harmony”.
Mereka berterima kasih kepada PT Agincourt karena mampu mengembalikan semangat dan kualitas hidup yang nyaris redup.Hidup mereka tidak lagi gelap tetapi kini penuh warna. (mega ulva sari sihombing)
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis Tambang Emas Martabe Tahun 2025.





