Puluhan siswa SMPN 1 Laguboti mengalami keracunan makanan. (istimewa)
InfraSumut.com – Medan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Toba, Sumatera Utara, melakukan pengambilan sampel makanan dari makan bergizi gratis (MBG), yang membuat puluhan siswa SMP Negeri 1 Laguboti, mengalami keracunan makanan tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Toba, Freddi Seventry Sibarani, menjelaskan bahwa menu makanan MBG yang dikonsumsi, yakni ikan mujair asam manis, sayur pokcoy dan buah semangka.
“Dari laporan tim yang mengambil sampel makanan, diduga buah semangka agak berlendir. Seluruh sempel makanan dilakukan pengecekan di laboratorium,” kata Freddi saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (16/10/2025).
Dari puluhan siswa-siswi SMP Negeri 1 Laguboti, beralamat di Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Toba. Lanjut, Freddi mengatakan seluruh korban mengalami gejala mual, muntah, pusing, mulas, nyeri ulu hati dan sesak, setelah menerima memakan MBG tersebut.
“Saat ini sebagian sudah siswa yang sudah stabil dipulangkan dan yang masih belum stabil masih di observasi,” kata Freddi.
Freddi tidak membantah total siswa-siswi diduga mengalami keracunan MBG tersebut, berjumlah 84 orang, termasuk dua karyawan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pardomuan Nauli.
“Iya benar (84 orang diduga jadi korban keracunan MBG itu),” kata Kadinkes Kabupaten Toba itu.
Berdasarkan data diperoleh Dinas Dinkes Kabupaten Toba, menyebutkan bahwa MBG itu, berasal dari SPPG Pardomuan Nauli, yang distribusikan MBG ke SMP Negeri 1 Laguboti.
Freddi mengungkapkan seluruh siswa diduga keracunan MBG tersebut, sudah ditangani dengan baik dan sudah berangsur membaik di sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Toba.
Atas kejadian dugaan keracunan ini, Freddi mengungkapkan operasional SPPG Pardomuan Nauli, dihentikan sementara sembari dilakukan evaluasi dari tim Badan Gizi Nasional (BGN).
“Hasil koordinasi dengan perwakilan BGN di Kabupaten Toba, untuk sementara SPPG Pardomuan Nauli, yang mendistribusikan MBG ke SMP Negeri 1 Laguboti dinyatakan untuk sementara tidak operasional sampai ada evaluasi dari BGN,” ucap Freddi.





