Tokoh Adat Melayu: Sumatera Utara Butuh Musa Rajekshah

Gambar Gravatar

Musa Rajekshah dan Wakil Gubernur Sumut Surya dalam suatu acara belum lama ini. (istimewa)

InfraSumut.com – Medan. Tokoh Adat Melayu Sumatera Utara, Dato Sri Adil Freddy Haberham Sembiring, menilai Musa Rajekshah atau yang akrab disapa Ijeck, dibutuhkan Provinsi Sumut.

Alasannya di antaranya karena Ijeck sosok perangkul lintas budaya, terlebih karena terus berbakti membangun Sumut lewat berbagai tugas dan tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya.

Bacaan Lainnya

“Iya, Ijeck sangat dibutuhkan provinsi ini,” ujar Dato Sri Adil Freddy Haberham Sembiring kepada wartawan di Medan, Selasa (24/6/2025).

Ia mengatakan kehadiran Ijeck sebagai politikus di Sumut diterima dengan baik oleh masyarakat. Terbukti dari sikap sopan dan santun Ijeck dalam berkomunikasi.

Tidak hanya itu, Ijeck juga mampu memberi contoh kepada masyarakat untuk bijak dalam mencerna informasi. Beberapa waktu lalu, ramai soal polemik empat pulau antara Aceh-Sumut.

Dalam hal ini, Ijeck muncul untuk memberikan kesejukan kepada masyarakat, bahwa Aceh-Sumut tidak hanya sekedar daerah yang bertetangga, melainkan saudara dekat.

Kehadiran Ijeck menjadi pengingat bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengakar di tengah masyarakat, memahami kearifan lokal, dan menjadikannya sebagai kekuatan pembangunan.

Kepedulian Ijeck, yang juga Ketua DPD Golkar Provinsi Sumut 2020-2025 itu terhadap budaya, terlihat dari kehadirannya dalam berbagai kegiatan adat pelestarian warisan budaya Melayu, Toba, Mandailing, Karo, Simalungun, Pakpak, Nias, Tionghoa, hingga komunitas urban multietnis lainnya. ijeck bukan sekadar tamu kehormatan, tapi bagian dari denyut nadi budaya itu sendiri.

Lebih lanjut disebutkannya bahwa Provinsi Sumut adalah mozaik etnis dan agama. Menjaga keseimbangan sosial di daerah ini tidak mudah. Dibutuhkan pemimpin yang bisa menjadi penghubung antar budaya, bukan pembelah.

Dalam perannya sebagai pemimpin politik dan tokoh masyarakat, Ijeck tampil dengan gaya kepemimpinan yang merangkul semua kalangan dari kalangan adat, pemuda lintas suku, komunitas minoritas, hingga ormas keagamaan.

Ia memahami betul pentingnya marwah kehormatan yang bukan hanya milik individu, tapi milik masyarakat. Ia tidak mencederai kepercayaan publik dengan perilaku populis semu, tetapi memperkuatnya dengan keteladanan.

Menurut Dato Sri Adil Freddy Haberham Sembiring atau yang akrab disapa Dato’ Sri Adil, Ijeck adalah sosok politikus handal yang mengedepankan adat dan etika.

“Bang Ijeck adalah contoh pemimpin muda yang tahu duduk di rumah orang tua, hormat pada pemuka adat, dan tidak meninggi di tengah rakyat,” ujar Dato’ Sri Adil.

Kehadiran Ijeck dalam berbagai kegiatan adat istiadat bukan hanya simbolis, tetapi menunjukkan pemahaman dan penghargaan atas warisan leluhur.

Baginya Ijeck telah menunjukkan bahwa politik bisa dijalankan tanpa meninggalkan akar budaya. Kebudayaan menjadi kultur sebagai identitas, bukan sekadar hiasan dalam kampanye.

“Gaya komunikasinya yang sopan, pendekatan personal dalam menyelesaikan masalah, serta kepiawaiannya menjembatani lintas etnis dan agama adalah cerminan dari politik kebudayaan yang mengutamakan rasa, bukan sekadar angka,” kata Dato Sri Adil.

Dato Adil menilai, Ijeck adalah sosok pemimpin yang berdiri di depan bukan hanya untuk memerintah, tetapi untuk menjaga, melindungi, dan mempererat ikatan batin antar masyarakat.

Ijeck, tambahannya, telah membuktikan bahwa untuk menjadi pemimpin di Sumatera Utara, tidak cukup hanya cerdas secara politik, tetapi juga harus paham akar budaya.

“Dengan kapasitas politik nasional, jaringan luas, serta kearifan lokal yang hidup dalam dirinya, maka tidak berlebihan jika ia disebut sebagai figur satu-satunya yang paling pantas memimpin DPD Partai Golkar Sumut hari ini dan masa akan datang. Ia bukan hanya mewakili partai, tetapi juga marwah masyarakat Sumut secara utuh,” ujarnya.

Kedepannya, kata Adil Provinsi Sumut, butuh sosok pemimpin seperti Ijeck. Sebagai daerah multi etnis di Indonesia, Ijeck dapat memahami bagaimana menyelesaikan masalah dengan mengedepankan adat dan etika. (bps)

Pos terkait