Ditegur Kemendagri Karena Inflasi Tinggi, Bobby Nasution Gelar Pasar Murah 524 Titik di Sumut

Gambar Gravatar

Kabiro Perekonomian Setdaprov Sumut Poppy Hutagalung saat konferensi pers terkait Pengendalian Inflasi, Selasa (7/10/2025). (dok/infrasumut)

InfraSumut.com – Medan. Setelah ditegur Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyusul inflasi 5,32% di September 2025 (yoy), yang merupakan tertinggi di Indonesia, Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, melakukan berbagai gerakan untuk meredam inflasi.

Salah satu di antaranya kabupaten/kota dan berbagai pihak lainnya, menggelar Gerakan Pangan dan Pasar Murah (GPM) di 524 titik yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumut.

Bacaan Lainnya

Sehingga diharapkan pasar murah di 542 titik itu mampu menurunkan harga bahan pokok yang menjadi penyumbang utama tingginya inflasi Sumut.

“Gerakan pangan dan pasar murah sampai hari ini masih berlangsung. Dimulai sejak bulan Agustus. Selain gerakan itu, kita juga sudah menyiapkan startegi jangka pendek, menengah, dan jangka panjang dalam mengantisipasi laju pertumbuhan inflasi di Sumut,” ujar Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, usai temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Pangeran Diponegoro Medan, Selasa (7/10/2025).

Berdasarkan data, tingkat inflasi Sumut (yoy) pada September 2025 mencapai 5,32%, naik dari 4,42% pada Agustus 2025. Angka tersebut tercatat sebagai yang tertinggi secara nasional, jauh di atas inflasi nasional sebesar 2,65%.

Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain cabai merah, emas perhiasan, bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai hijau, beras, dan daging ayam.

Pemprov Sumut juga meningkatkan pengawasan rantai distribusi dan menjaga pasokan, terutama untuk komoditas cabai merah. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan ESDM Sumut, Fitra Kurnia, menjelaskan bahwa jalur distribusi komoditas dari petani hingga ke konsumen masih cukup panjang, sehingga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga di pasaran.

Sementara itu, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumut, Budi Cahyanto, mengatakan kolaborasi Pemprov Sumut, Pemkab/Pemko, serta TNI dan Polri dalam upaya melaksanakan gerakan pangan dan pasar murah terus dilakukan.

Bulog, katanya, mempunyai dua program utama guna menstabilkan harga pangan di pasar. Pertama adalah memberikan bantuan pangan. Jumlah penerima bantuan pangan ini mengalami kenaikan, dari 832.772 keluarga penerima bantuan menjadi 844.696 keluarga penerima bantuan.

“Bantuan pangan ini akan dilaksanakan di seluruh 33 kabupaten/kota. Pasokan beras Bulog sudah siap dan berada di 18 titik gudang Bulog,” katanya.

Program kedua adalah penyaluran beras SPHP. Penyaluran beras SPHP pada tahun ini mencapai 89.861 ton. Saat ini, yang sudah tersalur 30,4% atau 27.500 ton.

Menurutnya gerakan pangan dan pasar murah ini merupakan salah satu wadah penyaluran bantuan kepada masyarakat dengan melibatkan pemerintah baik provinsi, kabupaten/kota yang di dalamnya turut andil Dinas Perindustrian dan Perdangan ESDM, Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura, serta TNI/Polri. (bps)

Pos terkait