Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources Katarina Siburian Hardono berbicara soal kebijakan perusahaan terkait gender diversity pada Workshop Wartawan United Tractors Group di Ballroom Mangkuluhur Art Hotel Suites, Jakarta Pusat, Kamis (25/9/2025). (dok/infrasumut)
InfraSumut.com – Jakarta. Jika selama ini dunia pertambangan emas terkesan keras dan menyeramkan bagi perempuan, maka itu tidak akan ditemukan di PT Agincourt Resources, pengelola Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Sebaliknya, perempuan senang bekerja di Tambang Emas Martabe yang 95% sahamnya dimiliki PT Danusa Tambang Nusantara (60% saham United Tractors dan 40% saham PT Pamapersada Nusantara) itu.
Terbukti dari total sekitar 3.500 karyawan hingga saat ini, di antaranya sekitar 24% adalah perempuan atau yang disebut perusahaan sebagai upaya inisiasi gender diversity (keberagaman gender).
Di Tambang Emas Martabe, karyawan perempuan ternyata tidak saja bekerja di administrasial, tetapi juga di unit teknis pertambangan, yang langsung mendukung eksploitasi, seperti operator alat berat, sopir truk dan lainnya, hingga penempatan perempuan di level top manajemen.
“Kami senang bisa memperlihatkan perempuan-perempuan tangguh yang bekerja di Tambang Emas Martabe kepada kita semua di sini. Sesekali harus lihat ke sana ya,” ujar Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono, usai penayangan video singkat Tambang Emas Martabe pada Workshop Wartawan United Tractors Group di Ballroom Mangkuluhur Art Hotel Suites, Jakarta Pusat, Kamis (25/9/2025).
Katarina Siburian Hardono yang menjadi salah satu pemateri utama pada workshop itu mengatakan perusahaan sangat berbangga memperkerjakan banyak perempuan selama lebih dari satu dekade ini.
Secara global, kata Katarina, hanya maksimal 12% rata-rata karyawan perempuan yang bekerja di perusahaan pertambangan. Di Indonesia lebih rendah lagi, yakni di bawah 10%. “Tambang Emas Martabe sejauh ini sudah hampir 24 persen,” ujarnya.
Banyaknya perempuan yang bekerja di Tambang Emas Martabe, kata Katarina, membuat pihaknya menjadi role model dalam dunia pertambangan yang harmonis di Indonesia.
Ia mengungkapkan latar belakang perseroan mengedepankan inisiatif keberagaman gender disebabkan banyak mengandung ide dan pendekatan berbeda, kemampuan pemecahan masalah dan peluang untuk inovasi.
Perusahan pun meyakini pengembangan keberagaman gender untuk tujuan menggali sumber tenaga kerja potensial yang lebih luas, untuk terciptanya lingkungan kerja pertambangan yang harmonis
“Jadi memang keberhasilan implementasi keberagaman gender ini akan menjadikan Agincourt Resources perusahaan yang lebih baik, kuat dan sukses. Itu tujuan kami,” terangnya.
Tidak saja soal mempekerjakan pertemuan, namun inisiatif gender diversity itu, jelas Katarina, didukung dengan landasan kebijakan, seperti penerapan antipelecehan, kebijakan laktasi, cuti melahirkan empat bulan, termasuk juga cuti bagi suami mendampingi istri melahirkan.
Selain itu, pemberian kesempatan yang sama dengan karyawan laki-laki untuk promosi jabatan di semua tingkatan, sesuai kompetensi dan profesional kinerja yang dimiliki.
“Intinya memang inisiatif keberagaman gender ini kami komitmenkan karena partisipasi perempuan itu turut menentukan keberhasilan dan pertumbuhan tambang ke depannya, dan itu sudah kami buktikan. Dan tidak saja di lingkungan perusahaan, di luar juga bahwa keberagaman gender ini menjadi salah satu isu utama kami,” jelas Katarina.
Namun diakuinya pengembangan keberagaman gender di dunia pertambangan, bukan tidak mengalami tantangan. Menurutnya tantangan itu datang dari internal, atau dari karyawan perempuan itu sendiri.
“Misalnya karena ia menikah, ikut suami pindah ke luar kota dan tidak ingin memperpanjang masa kerja karena faktor usia dan lainnya. Nah kepada mereka kemudian terus kita lakukan pendekatan dan edukasi, bahwa perempuan terus bisa berkarya di perusahaan, prospek ke depan dan peluang untuk maju dan berkembang lagi,” pungkas Katarina. (bps)





